Pernikahan Dini: Respons Terhadap Masalah Dilematik Antara Fikih Otoriter atau Fikih Otoritatif
DOI:
https://doi.org/10.33367/ijhass.v5i3.5820Keywords:
Early Marriage, Authoritarian Jurisprudence, Progressive JurisprudenceAbstract
This research aims to unravel religious biases in the practice of early marriage in Indonesia and to strengthen Islamic Family Law literacy among the public. Despite the revision of the Marriage Law through Law No. 16/2019, early marriage remains widespread in Indonesia. One of the contributing factors is the community's religious understanding, rooted in authoritarian fiqh. Originally, fiqh represented a dynamic human interpretation of human problems, but it has transformed into an authoritarian understanding. This study employs a library research method, adopting a descriptive-analytic approach with a hermeneutic-negotiative framework, or progressive fiqh, as introduced by Khaled Abou El Fadl. The findings of this research reveal two key points: First, Islamic legal discourse should produce inclusive, progressive, and tolerant fiqh. Fiqh should be understood through diverse perspectives, refreshed hypotheses, and progressive legal reasoning. In contrast, authoritarianism in interpreting fiqh can stifle creativity and limit human engagement with Islamic law. Second, the government's program on Marriage Age Maturity can serve as a manifestation of the concept of "akil baligh" in authoritative Islamic law. Supported by premarital counseling programs, this can help ensure the realization of marriage objectives while preserving the overall aims of Islamic law.
References
Ahmad Siregar, Thogu, “Dispensasi Kawin Pasca UU No. 16/2019,” dalam Kumparan.com, 18 Mei 2020.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Grand Design Program Pembinaan Ketahanan Remaja, Jakarta: BKKBN, 2012.
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi, Pendewasaan Usia Perkawinan dan Hak-Hak Reproduksi bagi Remaja Indonesia, Jakarta: BKKBN, 2008.
Badan Pusat Statistik, Kemajuan Yang Tertunda: Analisis Data Perkawinan Usia Anak di Indonesia, Jakarta: BPS Jakarta, 2015.
Budianto, Yoesep, “Tingginya Angka Perkawinan Usia Anak di Indonesia,” dalam https://www.kompas.id/baca/riset/2024/03/08/tingginya-angka-perkawinan-usia-anak-di-indonesia. 8 Maret 2024 11:50 WIB.
El Fadl, Khaled Abou, Speaking in God’s Name: Islamic Law, Authority and Women, England: Onword Publication, 2003.
Fadilah, Dini, “Tinjauan Dampak Pernikahan Dini dari Berbagai Aspek,” Jurnal Pamator, Volume 14 No 2, Oktober 2021 Hlm. 88-94. DOI: doi.org/10.21107/pamator.v14i2.10590
Fadlyana, Eddy dan Shinta Larasati, “Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya,” Sari Pediatri, 11, 2, Agustus 2009.
Hosen, Nadirsyah, Tafsir Al-Qur’an di Medsos: Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci Pada Era Media Sosial, Ed. II, Cet. 2, 2020, Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2019.
Liddini, Laily, “Early Marriage in the Light of Al-Qur'an and Hadith: Exploring its Impacts, QANUN: Jurnal Hukum Keluarga Islam, Vol. 2 No. 1, (Mei, 2024)”, hlm. 20-42. DOI: http://dx.doi.org/10.62870/qanun.v2i1.24816
Machasin, Rencana Strategis Ditjen Bimas Islam Tahun 2015-2019, Jakarta: Kementerian Agama RI, 2015.
Mahfudz, Asmawi, “Otoritarianisme Hukum Islam,” Jurnal tribakti, Volume 19, Nomor 2, Juli 2008.
Mansari dan Rizkal, "Peranan Hakim dalam Upaya Pencegahan Perkawinan Anak: Antara Kemaslahatandan Kemudharatan" El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga, Vol.4 No.2 Juli-Desember 2021. h. 328-356. http://dx.doi.org/10.22373/ujhk.v4i2.10219
Maulana, Arief, “Hari Perempuan Internasional, Fakta Tingginya Pernikahan Dini, dan Dorongan untuk Terus Berkarya,” dalam Kanal Media Unpad, https://www.unpad.ac.id/2023/03/hari-perempuan-internasional-fakta-tingginya-pernikahan-dini-dan-dorongan-untuk-terus-berkarya/, 8 Maret 2023.
Mauludi, Syahrul, "Pendidikan Agama sebagai prevensi pernikahan dini: analisis terhadap pemahaman dan praktik agama dalam mengatasi fenomena pernikahan dini di Pekanbaru," Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains dan Humaniora, Vol. 02 No. 1, April 2023, h. 13-22.
Muammar, M. Arfan dkk, Studi Islam Perspektif Insider Dan Outsider, Jogjakarta: IRCiSoD Anggota IKAPI, 2012.
Nugraha, X., dkk, “Rekonstruksi Batas Usia Minimal Perkawinan Sebagai Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan (Analisis Putusan MK No. 22/Puu-Xv/2017),” Lex Scientia Law Review, Volume 3, Nomor 3, Mei 2019.
Nur Ichwan, Moch, Meretus Kesarjanaan al-Qur’an: Teori Hermeneutika Aby Zayd, Jakarta: Teraju, 2003.
Putri, Setiyana Dwi et.al, “Kampanye Program Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, ”COMMUNICOLOGY-Jurnal Komunikasi, Volume 2, Nomor 2, Desember 2014.
Saifin Nuha Nurul Haq, Nabila, “Batas Usia Minimal Dalam Perkawinan Perspektif Maqasid Al-Shari’ah,” Tesis Pascasarjana, Program Magister Al-Ahwal Al-Syakhshiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang 2018.
Suadi, Amran, “The Role Of Religious Court In Prevention Underage Marriage,” Jurnal Hukum dan Peradilan, Vol. 9, No. 1 (2020), hlm. 117.
Sugiarti, Titing dan Kunthi Tridewiyanti, “Implikasi dan Implementasi Pencegahan Perkawinan Anak”, Jurnal Legal Reasoning, Vol. 4, no. 1, Desember 2021. h. 81-95.
Yasin, Muhammad, “Dispensasi Perkawinan Tetap Dimungkinkan, Begini Syaratnya Menurut UU yang Baru,” dalam Hukumonline.com, Kamis, 24 Oktober 2019.
“Dukung Sertifikasi Kawin, Kemenag Punya Bimbingan Perkawinan,” https://www.cnnindonesia.com/nasional/20191115083324-20-448532/dukung-sertifikasi-kawin-kemenag-punya-bimbingan-perkawinan
“Program Bimbingan Perkawinan Menjadi Program Nasional,” https://kepri.kemenag.go.id/page/det/program-bimbingan-perkawinan-menjadi-program-nasional-
Abstract
Views:
48,
PDF downloads: 58






