Dynamics of Subjective Well-Being in Early Marriage: A Phenomenological Review of Madurese Women

Authors

  • Yudho Bawono Universitas Trunojoyo Madura
  • Dewi Retno Suminar Universitas Airlangga Surabaya
  • Wiwin Hendriani Universitas Airlangga Surabaya

DOI:

https://doi.org/10.33367/psi.v7i2.2745

Keywords:

Subjective well-being, Early marriage, Madurese ethnic women

Abstract

The study aims to theoretically explain the dynamics of subjective well-being in the early marriage of Madurese women. This study used a qualitative research method with an Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) approach. The data collection used the semi-structured interview with the interview guide containing questions that reflect the ephocē. The participants in this study were 9 Madurese women who lived in Bangkalan Regency, Sampang Regency, Pamekasan Regency, and Sumenep Regency. There were important points that became the findings of this study, including (a) Madurese women who married early could achieve subjective well-being proven with statements that indicated life satisfaction in their marriage and could feel positive emotions more often than negative emotions, and (b) The achievement of subjective well-being of Madurese women who married early could not be separated from their husband's acceptance and support.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Addai, I., Opoku-Agyeman, C., & Amanfu, S. K. (2015). MARRIAGE AND SUBJECTIVE WELL- BEING IN GHANA. African Review of Economics and Finance, 7(1), 53–79.

Afiyanti, Y. (2008). Validitas dan reliabilitas dalam penelitian kualitatif. Jurnal Keperawatan Indonesia, 12(2), 137–141.

Afriani, R. & M. (2016). Analisis dampak pernikahan dini pada remaja putri di Desa Sidoluhur Kecamatan Godean Yogyakarta. In RAKERNAS AIPKEMA (pp. 235–243).

Arbiyah, N., Nurwianti, F., & Oriza, I. (2008). Hubungan bersyukur dan subjective well being pada penduduk miskin. Jurnal Psikologi Sosial, 14(1), 11–24.

Arroisi, R. H., & Quraisyin, D. (2015). “Arranged married†dalam budaya patriarkhi (Studi kasus komunikasi budaya pada pernikahan di Desa Ambunten, Kabupaten Sumenep). Komunikasi, IX(2), 131–140.

Aryanto. (2017). Remaja siap nikah belum tentu dewasa. Intisari, 70–78.

Bahrudin. (2016). Konflik intrapersonal remaja putri yang dipaksa menikah dini di Desa Banjarbillah. Universitas Trunojoyo Madura.

Bawono, Y. (2017). Pernikahan dan subjective well-being: Sebuah kajian meta-analisis. Biopsikososial: Jurnal Ilmiah Psikologi, 2(1), 101–116.

Bawono, Y. (2018). Menikah, dapatkah membuat sejahtera? Buletin PKPPA LPPM Universitas PGRI Semarang, 3(2), 14–15.

Bawono, Y., Suminar, D. R., & Hendriani, W. (2019). “ I am satisfied with my marriageâ€: An experience from Madurese women who married early. Humaniora, 10(3), 197–202. https://doi.org/10.21512/humaniora.v10i3.5887

Bawono, Y., & Suryanto, S. (2019). Does early marriage make women happy ? A phenomenological finding from Madurese women. Journal of Educational, Health and Community Psychology, 8(1), 85–100. https://doi.org/10.12928/jehcp.v8i1.12197

BPS. (2022). https://www.bps.go.id/indicator/40/1360/1/proporsi-perempuan-umur-20-24-tahun-yang-berstatus-kawin-atau-berstatus-hidup-bersama-sebelum-umur-18-tahun-menurut-provinsi.html

Dariyo, A., Hadiati, M., & Rahaditya, R. (2020). Pemahaman undang-undang perkawinan terhadap penundaan perkawinan usia dini di indonesia 1. Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi, 5(1), 25–37. https://doi.org/10.33367/psi.v5i1.928

Diener, E. (1984). Subjective well-being. Psychological Bulletin, 95(3), 542–575. https://doi.org/10.1037/0033-2909.95.3.542

Eriani, S. (2015). Strategi bertahan hidup keluarga yang menikah di usia dini di Desa Buatan Baru Kecamatan Kerinci Kanan Kabupaten Siak. Jom FISIP, 2(1), 1–11.

Fatayati. (2015). Penyesuaian diri dalam pernikahan (Studi kasus pada istri yang menikah muda di Sumenep). Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Fawaid, F., & Hadi, M. H. A. (2015). Pelaksanaan nikah Ngodheh (Studi komparasi hukum Islam dengan hukum adat) di Desa Bangkes Kecamatan Kadur Kabupaten Pamekasan Madura. PANGGUNG HUKUM, 1(2), 218–247.

Hairi. (2009). FENOMENA PERNIKAHAN DI USIA MUDA DI KALANGAN MASYARAKAT MUSLIM MADURA (Studi Kasus di Desa Bajur Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan).

Hanum, Y. & T. (2015). Dampak pernikahan dini terhadap kesehatan alat reproduksi wanita. Jurnal Keluarga Sehat Sejahtera, 13(26), 36–43.

Herawati, N. (2015). Well-being masyarakat Madura. In Prosiding Seminar Nasional. Bangkalan: Program Studi Psikologi Universitas Trunojoyo Madura.

Hidayati, T. (2017). Pendekatan maqasid al-syariah pada tradisi kawin anak di Madura. ’Anil Islam, 10(2), 175–200.

Hujaroh, M. (2010). Paradigma, pendekatan dan metode penelitian fenomenologi.

Indriastuti, N. W. (2017). Subjective well-being pada perempuan menikah dini dengan usia pernikahan long-term marriage: Pendekatan kualitatif metode interpretative phenomenological analysis (IPA). In Proceeding Book. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya.

Jannah, F. (2011). Pernikahan dini dalam pandangan masyarakat Madura (Studi fenomenologi di Desa Pandan Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan). UIN Maulana Malik Ibrahim.

Kahija, Y. F. . (2017). Penelitian fenomenologis: Jalan memahami pengalaman hidup. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Karisyati, S., & Hadi, M. H. A. (2017). Tradisi BhÄÄkÄl EkakoãghÄ­ (Perjodohan sejak dalam kandungan) di Desa Sana Laok, Kecamatan Waru, Pamekasan, Madura dalam perspektif hukum adat dan hukum Islam. SUPREMASI HUKUM, 6(2), 25–48.

Kartika, Darwin, & S. (2016). Kebergaman batasan usia anak di Indonesia hubungannya dengan perkawinan pada anak. JPG (Jurnal Pendidikan Geografi), 3(4), 14–27. https://doi.org/10.20527/jpg.v3i4.1506

Kemenkes. (2015). Kesehatan dalam kerangka sustainable development goals (SDGs). Retrieved from www.pusat2.litbang.dinkes.go.id/pusat2vi/wpcontent-/2015/12/SDGs-Ditjen-BGKIA.pdf

Kompas. (2017). Masa depan anak hancur, gerakan bersama stop perkawinan anak harus sampai daerah, p. 12.

Langdridge, D. (2007). Phenomenological psychology: Theory, research and method. England: Pearson Education Limited.

Latifa, R. (2015). pengaruh kelekatan terhadap ekspresi emosi dalam relasi pernikahan - latifa.pdf. Psikologika, 20(1), 39–50.

Maemunah. (2008). Hubungan antara faktor pendidikan remaja dan ekonomi keluarga dengan sikap remaja untuk memutuskan menikah di usia muda di Desa Prapag Kidul-Losari-Brebes. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Maharani, A. R. (2018). Hubungan antara kesehatan mental dengan penyesuaian pernikahan pada pasangan suami istri. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel.

Mardhatillah, M. (2014). Perempuan Madura sebagai simbol prestise dan pelaku perjodohan. Musawa, 13(2), 167–178. https://doi.org/10.14421/musawa.2014.132.167-178

Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2005). Attachment theory and emotions in close relationships : Exploring the attachment-related dynamics of emotional reactions to relational events, 12, 149–168.

Minarni, M., Andayani, A., & Haryani, S. (2014). Gambaran dampak biologis dan psikologis remaja yang menikah dini di Desa Munding Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang. Jurnal Keperawatan Anak, 2(2), 95–101.

Miswiyawati. (2017). Subjective well-being pada pasangan yang menikah muda. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Mothamaha, L. V. (2007). The need of fet learner for personal well being. University of South Africa.

Mu’in, A., & Hefni, M. (2016). Tradisi Ngabulâ di Madura (Sebuah upaya membentuk keluarga sakinah bagi pasangan muda). KARSA: Jurnal Sosial Dan Budaya Keislaman, 24(1), 109–125. https://doi.org/10.19105/karsa.v24i1.999

Munawara., Yasak, E. M., & Dewi, S. I. (2015). Budaya pernikahan dini terhadap kesetaraan gender masyarakat Madura. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 4(3), 426–431.

Muthmainnah. (2018). Persepsi masyarakat tentang mitos Sangkal perempuan penolak lamaran di Desa Penagan, Sumenep, Madura. PAMATOR, 11(1), 1–9.

Nayana, F. R. (2013). Kefungsian keluarga dan subjective well-being pada remaja. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 1(2), 230–244.

Ningsih, E. Y., & Handoyo, P. (2015). Perjodohan di masyarakat Bakeong Sumenep Madura (Studi fenomenologi tentang motif orangtua menjodohkan anak). Paradigma, 3(3), 1–5.

Nuri, S. (2016). Agresivitas remaja putri akibat tradisi tan mantanan di Desa Poteran Kecamatan Talango Kabupaten Sumenep. Universitas Trunojoyo Madura.

Octaviani, F., & Nurwati, N. (2020). Dampak pernikahan usia dini terhadap perceraian di Indonesia. Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Humanitas, 2(2), 33-52

Poerwandari, E. K. (2011). Pendekatan kualitatif untuk penelitian perilaku manusia. Depok: Lembaga Pengembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LSP3).

Rachmad, T. H. (2017). Kontestasi pernikahan dini dalam kajian budaya Madura. In N. D. Kurniawati, T. H. Rachmad, & Yuriadi (Eds.), Fenomena pernikahan dini di Madura. Malang: AE Publishing.

Rahayu, W. Y., & Bawono, Y. (2017). Emotion focus coping pada perempuan Madura yang menikah karena perjodohan. In F. R. S. Edi & Yuriadi (Eds.), Community Well Being for A Better Life (pp. 13–22). Bangkalan: Penerbit Elmatera.

Rohmah, L. (2016). Penyesuaian pasangan yang dijodohkan sejak dalam kandungan di Desa Poteran, Talango, Sumenep. Universitas Trunojoyo Madura.

Rubaidah. (2016). Perkawinan usia dini di Indonesia tertinggi kedua di ASEAN. Retrieved from www.berdikarionline.com

Sa’dan, M. (2015). Menakar tradisi kawin paksa di Madura dengan barometer HAM. Musawa, 14(2), 143–155.

Sa’dan, M. (2016). Tradisi perkawinan matrilokal Madura dengan barometer HAM. Ibda’ Jurnal Kebudayaan Islam, 14(1), 129–138.

Sadik, A. S. (2014). Memahami jati diri, budaya, dan kearifan lokal Madura. Surabaya: Balai Bahasa Jawa Timur.

Sakdiyah, H., & Ningsih, K. (2013). Mencegah pernikahan dini untuk membentuk generasi berkualitas Preventing early-age marriage to establish qualified generation. Masyarakat, Kebudayaan Dan Politik, 26(1), 35–54.

Salmah, S. (2016). Pernikahan dini ditinjau dari sudut pandang sosial dan pendidikan. Alhiwar Jurnal Ilmu Dan Teknik Dakwah, 4(7), 35–39.

Sangaji, I. S. (2017). Analisis dampak dini terhadap kesehatan reproduksi pada remaja putri di Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman. Universitas Aisyiyah.

Setyawan, A., & Herdiana, I. (2016). Kualitas hidup perempuan Pulau Mandangin yang menikah dini. Jurnal Psikologi Kepribadian Dan Sosial, 5(1), 1–10.

Sidiq, M. (2003). Kekerabatan dan kekeluargaan masyarakat Madura Kecamatan Pasongsongan. (Soegianto, Ed.). Jember: Penerbit Tapal Kuda.

Smith, J. A., Flowers, P., & Larkin, M. (2009). Interpretative phenomenological analysis: Theory, method and research. London: SAGE Publications Ltd.

Statistik, K. B. P. (2016). Perkawinan usia anak di Indonesia 2013 dan 2015. Jakarta: BPS.

Suciati. (2015). Komunikasi interpersonal: Sebuah tinjauan psikologis dan perspektif. Yogyakarta: Buku Litera.

Sudarto, A. (2014). Studi Deskriptif Kepuasan Perkawinan pada Perempuan yang Menikah Dini. Calyptra: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya, 3(1), 1–15.

Sulaiman. (2012). Dominasi tradisi dalam perkawinan di bawah umur (Domination of tradition in under age marriage). Jurnal Analisa, 19(1), 15–26.

Sulistiyawati & Ariyani, Y. (2018). Gambaran kebahagiaan (happiness) pada menantu perempuan yang tinggal di rumah beda suku. In Prosiding Seminar Nasional. Bangkalan: Program Studi Psikologi Universitas Trunojoyo Madura.

Yunitasari, E., Pradanie, R., & Susilawati, A. (2016). Pernikahan dini berbasis transkultural nursing di Desa Kara Kecamatan Torjun Sampang Madura. Jurnal Ners, 11(2), 164–169.

Zumriyah, R. (2015). Keharmonisan keluarga pada pasangan yang menikah dini (Studi kasus pasangan menikah dini di Desa Larangan Kabupaten Pamekasan). Universitas Trunojoyo Madura.

Downloads

Abstract Views: 357, PDF downloads: 285

Published

2022-12-01

How to Cite

[1]
Yudho Bawono et al. 2022. Dynamics of Subjective Well-Being in Early Marriage: A Phenomenological Review of Madurese Women. Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi. 7, 2 (Dec. 2022), 221–237. DOI:https://doi.org/10.33367/psi.v7i2.2745.